Senin, 11 November 2019

Makalah Bimbingan Belajar


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bimbingan belajar merupakan salah satu layanan yang penting untuk diselenggarakan disekolah. Kesulitan belajar yang dialami siswa memiliki penyebab-penyebab yang mempengaruhinya, hingga ia mengalami masalah belajar. Kemampuan setiap anak berbeda-beda, jenis kesulitan belajar yang dialami peserta didik pun berbeda.
Dalam karya ilmiah ini juga akan diberikan upaya ynag dapat dilakukan guru atau konselor dalam rangka membantu siswanya yang mengalami masalah belajar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud Bimbingan Belajar?
2.      Apa yang dimaksud Kesulitan Belajar?
3.      Apa saja jenis-jenis kesulitan belajar?
4.      Apa saja factor yang mempengaruhi Kesulitan Belajar?
5.      Bagaimana upaya dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian bimbingan belajar.
2.      Untuk mengetahui pengertian kesulitan belajar.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis kesulitan belajar.
4.      Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi kesulitan belajar.
5.      Untuk mengetahui upaya membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar
D.    Manfaat
1.      Bagi penulis: Sebagai bahan pembelajaran dalam memahami siswa yang mengalami masalah kesulitan belajar.
2.      Bagi Pembaca: Sebagai bahan bacaan untuk mengetahui tentang layanan bimbingan belajar dalam membantu siswaa yang mengalami kesulitan belajar
3.      Bagi dunia Pendidikan: Sebagai bahan referensi dalam pembelajaran dan pemecahan masalah serta pengetahuan layanan bimbingan belajar khusunya dalam dunia bimbingan dan konseling.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut Prayitno (2004, 279) :          “ Bimbingan belajar merupakan salah satu
bentuk layanan bimbingan yang penting untuk diselenggarakan disekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Seringkali kegagalan itu terjadi karena mereka tidak mendapatkan layanan bimbingan yang memadai.
Menurut Nurihsan (2003, 20):            “ Bimbingan belajar yaitu bimbingan yang
diarahkan untuk membantu para individu dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah   akademik.”
Menurut Winkel (1997, 140):             “ Bimbingan belajar merupakan bimbingan
dalam hal menemukan cara-cara belajar yang tepat, memilih program studi yang sesuai dan mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan-tuntutan belajar disuatu institusi pendidikan.

Menurut Syamsyu Yusuf (2006, 37): “Bimbingan belajar yaitu bimbingan yang
diarahkan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam belajar dan memecahkan masalah-masalah belajar yang dialami.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa bimbingan belajar merupakan suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat mengatasi masalah belajar yang dialaminya, agar dapat mengembangkan pemahaman dan keterampilan yang dimilikinya.
B.     Pengertian Kesulitan Belajar
Menurut The United States Office Education dalam buku Abdurrahman (2003, 06):          Kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses
psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan
Menurut The National Joint Commite for Learning Dissabilites dalam buku Abdurrahman (2003, 07) :     Kesulitan belajar didefinisikan dalam bentuk
kesulitan nyata dalam kematian dan penggunaan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi.
Menurut Sunarta (1985, 07):   Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa dalam
kegiatan belajarnya, sehingga berakibat prestasi belajarnya rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya.
C.    Jenis-jenis Masalah Belajar
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.
1.      Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2.      Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3.      Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
4.      Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
5.      Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai
hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar. Kelompok pertama merupakan sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.
Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan.
Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.
D.    Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar
Faktor yang dapat menyebabkan kesulitan belajar di sekolah itu banyak dan beragam. Apabila dikaitkan dengan faktor-faktor yang berperan dalam belajar, penyebab kesulitan belajar tersebut dapat kita kelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal).
Adapun faktor-faktor penyebab kesulitan belajar itu, dapat dikelompokkan sebagai berikut:
A.    Faktor internal, yang meliputi:
1.      Faktor fisiologi
2.      Faktor psikologi
B.     Faktor eksternal, yang meliputi:
1.      Faktor orang tua
2.      Faktor sekolah
3.      Faktor media masa dan lingkungan sosial
Berikut ini akan diuraikan tentang faktor-faktor penyebab kesulitan belajar, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
1)      Faktor Internal
A.    Faktor Fisiologi
Seorang anak yang sakit atau kurang sehat akan mengalami kelemahan fisik, sehingga saraf sensorik dan motoriknya lemah akibatnya rangsangan yang diterima melalui indranya tidak dapat diteruskan ke otak. Anak yang kurang sehat akan mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah lelah, pusing, mengantuk,daya konsentrasinya berkurang dan kurang bersemangat dalam belajar.
Ahmad Thanthowi (1991 : 106) mengatakan: “Karena sakit-sakitan, maka menjadi sering meninggalkan sekolah. Demikian juga dalam upaya belajar di rumah frekuensi belajar dapat menjadi menurun. Maka badan yang sehat dan segar amat berpengaruh bagi tercapainya sukses belajar.”
Wasty Soemanto, (1990 : 121) mengatakan bahwa: “Orang yang belajar membutuhkan kondisi badan yang sehat. Orang yang badanya sakit akibat penyakit-penyakit tertentu serta kelelahan tidak akan dapat belajar dengan efektif. Cacat fisik juga  mengganggu hal belajar.”
Gangguan serta cacat mental pada seseorang juga sangat mengganggu hal belajar orang yang bersangkutan. Bagaimana orang dapat belajar dengan baik apabila ia sakit ingatan, sedih, frustrasi atau putus asa. Bila seorang anak mengalami sakit yang lama, maka sarafnya akan bertambah lemah, sehingga ia tidak dapat mengikuti pelajaran untuk beberapa hari dan pelajarannya pun tertinggal. Selain itu cacat tubuh pun dapat menyebabkan seorang anak mengalami kesulitan belajar.
B.     Faktor Psikologi
Belajar memerlukan kesiapan rohani dan kesiapan mental yang baik, dan yang termasuk dalam faktor psikologi adalah:
a.       Inteligensi
Menurut Sarwono (1991,71) Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah, serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
Faktor ini besar sekali pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Bila intelegensi seseorang memang rendah dan ia tidak mendapat bantuan dari pendidik dan orang tuanya, maka usaha dan jerih payahnya dalam belajar akan memperoleh hasil yang kurang baik atau mungkin tidak akan berhasil.
b.      Bakat
Menurut Ahmadi (1991,78) Bakat adalah potensi atau kecakapan dasar yang dibawa sejak lahir.
Setiap individu memiliki bakat yang berbeda-beda dan seseorang akan mempelajari sesuatu sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Apabila seorang anak mempelajari suatu bidang studi yang bertentangan dengan bakatnya, maka ia akan merasa bosan dan cepat putus asa.
c.       Minat
Seorang anak yang tidak memiliki minat terhadap suatu pelajaran akan menimbulkan kesulitan belajar. Minat yang timbul dari kebutuhan belajar siswa, akan menjadi pendorong dalam melaksanakan belajar.
Moh Surya (2003, 6) mengatakan “Ada tiga komponen yang harus dimiliki anak, agar dirinya dapat melakukan kegiatan proses belajar yaitu: Minat, Perhatian, Motivasi.
d.      Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam proses belajar. Seseorang yang motivasinya lemah tampak acuh tak acuh terhadap elajaran, mudah putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran dan sering meninggalkan pelajaran yang mengakibatkan kesulitan dalam belajar.


2)      Faktor Eksternal
A.    Faktor orang tua
Keluarga merupakan pusat pendidikan utama dan pertama, tetapi dapat juga sebagai faktor penyebab kesulitan belajar. Dalam hal ini orang tua memiliki peranan penting dalam rangka mendidik anaknya,karena pandangan hidup, sifat dan tabiat seorang anak, sebagian besar berasal dari kedua orang tuanya.
Hasbullah (1996, 89) mengatakan “Tugas utama keluarga dalam pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabi’at anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga lain.”
Yang termasuk faktor ini antara lain adalah:
a.       Bimbingan dan didikan orang tua
Orang tua yang tidak tahu atau kurang memperhatikan kemajuan belajar anak-anaknya akan menjadi penyebab kesulitan belajar anak-anak memerlukan bimbingan orang tua agar bersikap dewasa dan tanggung jawab belajar tumbuh pada diri anak. Orang tua yang bekerja dapat mengakibatkan anak tidak memperoleh bimbingan atau pengawasan dari orang tuanya, sehingga anak akan mengalami kesulitan belajar.
b.      Hubungan orang tua dan anak
Faktor ini penting sekali dalam menentukan kemajuan belajar anak. Kasih sayang dari orang tua menimbulkan mental yang sehat bagi anak. Kurangnya kasih sayang akan menimbulkanemosional insecurity. Seorang anak akan mengalami kesulitan belajar apabila tidak ada atau kurangnya kasih sayang dari orang tua.
c.       Suasana rumah atau keluarga
Suasana rumah yang sangat ramai atau gaduh, mengakibatkan anak tidak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu konsentrasinya, sehingga sukar belajar.
d.      Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi digolongkan dalam:
-          Ekonomi yang kurang atau miskin  keadaan ini akan menimbulkan kurangnya alat-alat belajar, kurangnya biaya dan anak tidak mempunyai tempat belajar yang baik. Ketiga hal tersebut akan menjadi penghambat bagi anak untuk dapat belajar dengan baik dan hal tersebut juga dapat menghambat kemajuan belajar anak.
-          Ekonomi yang berlebihan (kaya). Keadaan ini sebaiknya dari keadaan yang pertama, yaitu ekonomi keluarga yang melimpah ruah. Mereka akan menjadi malas belajar karena ia terlalu banyak bersenang-senang mungkin orang tua tidak tahan melihat anaknya belajar dengan bersusah payah keadaan seperti ini akan dapat menghambat kemajuan belajar.

B.     Faktor sekolah
Yang dimaksud dengan faktor sekolah antara lain adalah:
a.       Guru
Guru dapat menjadi penyebab kesulitan belajar apabila guru tidak memenuhi syarat sebagai seorang pendidik, contohnya:  hubungan guru kurang baik dengan siswa dan guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak. Seorang guru dituntut harus dapat mengelola komponen-komponen yang terkait dalam mendidik para siswa.
Ladjid (2005 : 114), mengatakan “Dalam komponen- komponen yang berpengaruh terhadap hasil belajar, komponen guru lebih menentukan karena ia akan mengelola komponen lainnya sehingga dapat meningkatkan hasil proses belajar mengajar.”
b.      Alat pelajaran
Alat pelajaran yang kurang lengkap membuat penyajian pelajaran tidak baik. Terutama pelajaran yang bersifat praktikum, kurangnya alat laboratorium akan banyak menimbulkan kesulitan dalam belajar.
c.       Kondisi gedung
Apabila gedung sekolah dekat dengan keramaian, ruangan gelap dan sempit maka situasi belajar akan kurang baik karena sangat mengganggu konsentrasi sehingga kegiatan belajar terhambat. Dalam belajar dibutuhkan konsentrasi penuh sehingga siswa akan dengan mudah dalam memahami pelajaran yang sedang dibahas.
Thonthowi (1991, 1005) mengatakan “Ruang kelas yang kotor, berdebu, dan kurang ventilasi dapat mengganggu kesehatan, terutama pernapasan sehingga proses belajar mengajar dapat mengalami gangguan. Demikian juga situasi dalam kelas yang bising, ribut, tidak memungkinkan tercapainya tujuan belajar yang diinginkan”
d.      Kurikulum
Kurikulum dapat dikatakan kurang baik apabila bahan/materinya terlalu tinggi dan pembagian bahan/materi tidak seimbang.
Slameto (2003, 93) mengatakan “Kurikulum yang baik dan seimbang. Kurikulum sekolah yang memenuhi tuntutan masyarakat dikatakan kurikulum itu baik dan seimbang. Kurikulum ini juga harus mampu mengembangkan segala segi kepribadian siswa. Di samping kebutuhan siswa sebagai anggota masyarakat.”
e.       Waktu sekolah dan disiplin kurang
Waktu yang baik untuk belajar adalah pagi hari, karena kondisi anak masih dalam keadaan yang optimal untuk dapat menerima atau menyerap pelajaran. Apabila sekolah masuk siang atau sore kondisi siswa sudah tidak optimal lagi untuk menyerap pelajaran, karena energi mereka sudah berkurang. Selain itu pelaksanaan disiplin yang kurang juga dapat menjadi penghambat dalam proses belajar mengajar.
Selain faktor-faktor di atas, ada pula faktor-faktor lain yang juga dapat menimbulkan kesulitan belajar yaitu sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar)
Menurut Syah, (1999, 166)
Faktor-faktor tersebut adalah:
-          Disleksia (dyslexia) yaitu ketidakmampuan belajar membaca.
-          Disgrafia (dysgraphia) yaitu ketidakmampuan belajar menulis.
-          Diskalkulia (discalculia), yaitu ketidakmampuan belajar matematika.
3)      Faktor media masa dan lingkungan sosial
A.    Menurut Ahmadi (1991,87). Faktor media masa meliputi; bioskop, surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Hal-hal tersebut dapat menjadi penghambat dalam belajar apabila terlalu banyak waktu yang digunakan untuk hal-hal tersebut, hingga melupakan belajar.
B.     Lingkungan sosial, seperti teman bergaul, tetangga dan aktivitas dalam masyarakat. Ketiga faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap proses belajar anak, misalnya anak terlalu banyak berorganisasi, hal ini dapat menyebabkan belajar anak menjadi terbengkalai.
Riset menunjukkan bahwa apa yang terjadi selama tahun-tahun awal kelahiran sampai umur 4 tahun adalah masa-masa kritis yang penting terhadap pembelajaran ke depannya. Stimulasi pada masa bayi dan kondisi budaya juga mempengaruhi belajar anak.  Pada masa awal kelahiran samapi usia 3 tahun misalnya, anak mempelajari bahasa dengan cara mendengar lagu, berbicara kepadanya, atau membacakannya cerita.
E.     Upaya Membantu Siswa yang Mengalami Masalah Belajar
Siswa yang mengalami masalah belajar seperti yang diutarakan perlu mendapatkan bantuan agar permasalahan yang dialaminya dapat terselesaikan  dan tidak berlarut-larut yang nantinya dapat mempengaruhi proses perkembangan siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a)      Pengajaran Perbaikan
Pengajaran perbaikan merupakan suatu bentuk bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok siswa yang menghadapai kesulitan belajar, dengan maksud untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam proses dan hasil belajar mereka.
Pengajaran perbaikan sifatnya lebih khusus, karena bahan dan metodenya serta pelaksanannya disesuaikan dengan jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan yang dihadapi siswa.


b)      Kegiatan Pengayaan
Kegiatan pengayaan merupakan suatu bentuk layanan yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa yang sangat cepat dalam belajar. Dilihat dari segi prestasi mereka bukanlah merupakan siswa yang mengalami kesulitan belajar, tetapi dengan kecepatan belajar yang dimilikinya dapat berdampak negative kepada diri anak itu sendiri, apabila merasa kurang diperhatikan da kurang dihargai, mereka cenderung menjadi patah hati, dan tidak bersemangat. Hubungannya dengan siswa yang lain, mereka mungkin menjadi siswa yang mengganggu atau salah tingkah sehingga membuat mereka ini kesulitan dalam belajar. Maka perlu diadakannya kegiatan pengayaan.
c)      Peningkatan Motivasi Belajar
Guru atau konselor dan staf lainnya berkewajiban membantu siswa meningkatkan motovasi dalam belajar. Prosedur yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
(1)   Memperjelas tujuan belajar. Siswa akan lebih terdorong untuk belajar jika mengetahui tujuan belajar.
(2)   Menyesuaikan pengajaran dengan bakat, kemampuan dan minat siswa.
(3)   Menciptakan suasana pembelajaran yang menantang, merangsag dan menyenangkan.
(4)   Memberikan hadiah dan hukuman bila perlu.
(5)   Menciptakan suasana hubungan yang hangat dan dinamis antara guru dan murid serta murid dengan murid.
(6)   Menghindari tekanan-tekanan dan suasana yang tidak menentu
(7)   Melengkapi sumber dan peralatan belajar
d)     Pengembangan Sikap dan Kebiasaan belajar yang baik
Siswa yang hendak didorong untuk meninjau sikap dan kebiasaannya dalam hubungannya dengan prinsip-prinsip dibawah ini:
(1)   Belajar dengan melibatkan diri secara penuh, lebih dari sekedar membaca bahan yang tercetak dalam buku
(2)   Peningkatan efisiensi belajar jika ada rencana atau tujuan yang nyata
(3)   Kata dan ungkapan dibaca dengan penuh pengertian
(4)   Belajar dengan suasana tidak terpaksa
(5)   Dalam melaksanakan kegiatan perlu adanya suasana hati yang nyaman, kesehatan fisik yang baik, tidur yang teratur.
Sebagai Konselor, guru, ataupun staff sekolah dapat membantunya dengan:
(1)   Menemukan motif yang tepat dalam belajar
(2)   Memelihara kondisi kesehatan yang baik
(3)   Mengatur waktu belajar, baik dirumah maupun disekolah
(4)   Memilih tempat belajat yang baik
(5)   Menggunakan sumber belajar yang kaya
(6)   Membaca secara baik dan sesuai dengan kebutuhan
(7)   Tidak segan dalam bertanaya



BAB III
Penutup

A.    Kesimpulan
Bimbingan belajar merupakan layanan bantuan yang diberikan kepada seorang atau sekelompok siswa, yang mengalami masalah belajar. Kesulitan belajar yang dialami siswa adalah aspek-aspek yang membuat atau menyebabkan belajarnya mengalami tingkat yang rendah. Faktor yang menyebabkannya dapat berupa factor internal dan factor eksternal. Upaya yang dapat dilakukan adalah dapat diberikan pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.
B.     Saran
Dalam karya ilmiah yang penulis buat ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan demi perbaikan yang semestinya pada karya ilmiah ini sangat penulis harapkan dari semua pihak yang berkenan memperhatikan isi dan penulisnya. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat dan memiliki arti bagi dunia pendidikan dan khususnya dalam bidang bimbingan dan konseling.



DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsuddin, Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda
Karya, 2003.
Ahmadi Abu dan Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung :
Pustaka Setia, 2003.
Djumhur dan Moh. Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu
Bandung. 1975.
Prayitno dan Erman Anti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta :
P2LPTK Depdikbud,1995.
Prayitno, Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat
Pendidikan Dasar dan Menengah,2003.
Prayitno, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, CV. Ilmu Bandung,
1997
Winkel, W.S., Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta :
Gramedia, 1991.



.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sensitifitas Budaya Dalam Konseling

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Masalah Dewasa ini mahasiswa di perguruan tinggi sering mengadopsi suatu pandangan bahwa situ...